Cara Mudah dan Sederhana Beternak Burung Cucakrawa

Beternak Burung Cucakrawa

Saat ini beberapa klub burung kicauan di Indonesia mulai merasakan susahnya mencari bakalan cucakrawa yang mempunyai suara berkualitas. Padahal dengan melakukan penangkaran, kesulitan itu akan teratasi. Selain itu cucakrawa juga lebih mudah untuk dibentuk suaranya sesuai keinginan pemiliknya. Berdasarkan survei Burung Indonesia dan The Nielsen, sebanyak 58,5% dari jumlah burung kicauan adalah tangkapan alam. Dan setiap tahun jumlah tersebut akan terus meningkat. Tak pelak lama kelamaan burung yang ada di alam ini bakal terancam keberadaannya.

Pada akhirnya, hobi memelihara burung kicauan ini pun tidak bertahan lama. Pastinya, hal ini tidak diinginkan para penggemar burung kicauan yang memelihara untuk sekadar hobi ataupun disertakan dalam lomba.

Tidak Banyak Penangkar

Salah satu cara agar hobi ini tetap bisa berlanjut, maka penangkaran harus dilakukan, tak terkecuali burung cucakrawa (Pynonotus zeylanicus atau straw-headed bulbul). “Dengan penangkaran, cucakrawa yang ada di alam tidak akan terkuras habis,”
Cucakrawa tergolong burung yang keberadaannya di alam tinggal sedikit. Memang tidak banyak yang mau melakukan penangkaran burung-burung untuk lomba karena ada anggapan menangkarkan cucakrawa sulit dan merepotkan. Memang awalnya sulit, tapi kalau kita selalu belajar, kendala itu akan bisa kita hadapi.

Dengan melakukan penangkaran tidak saja memberikan dampak pada penambahan stok cucakrawa juga memberikan nilai ekonomis.Penangkaran cucakrawa ini sangat menjanjikan untuk menjadi lahan bisnis.Disamping itu para penangkar akan memberi peluang usaha kepada pencari jangkrik, penjual pakan, dan penjual sangkarnya.

Memberi Nilai Ekonomis

Sulitnya hobiis mencari cucakrawa di pasaran menjadi peluang bisnis bagi penyedia cucakrawa bakalan. Burung bakalan lebih banyak dipilih hobiis karena lebih mudah dibentuk suaranya. “Keuntungan lain adalah burung lebih akrab dengan manusia atau tidak liar.

Cucakrawa hasil penangkaran akan menghasilkan suara kicauan yang lebih indah. Burung juga lebih mudah dilatih sehingga suaranya bisa disesuaikan dengan keinginan pemiliknya. Bahkan saat disertakan lomba,burung hasil penangkaran tidak gampang stres menghadapi lingkungan yang baru.

Sebagai perbandingan, harga burung dewasa diatas 1 tahun yang pada 1978 cuma Rp25.000 per pasang, kini melambung Rp 15 juta—Rp 18 juta. Sedangkan untuk piyik cucakrawa Rp 6 juta per pasang, kemudian yang berusia 3 sampai 5 bulan dijual dengan harga Rp 9 juta per pasang, sedangkan untuk yang sudah mencapai satu tahun harganya bisa mencapai Rp 14 juta per pasang. Melalui teknik pembiakan yang bagus, setiap induk bisa menghasilkan sepasang piyik seiap bulannya. Sebuah bisnis yang menjanjikan bukan ??

Sebelum penangkaran Cucak Rawa dimulai, terlebih dahulu perlu dilakukan seleksi atau pemilihan terhadap burung-burung ini, terutama apabila jumlah yang dimiliki cukup banyak. Tetapi apabila burung yang ada jumlahnya terbatas, maka seleksi semacam tidak perlu dilakukan. Seleksi ini dimaksudkan agar memperoleh pasangan calon induk yang memenuhi syarat, yang diharapkan dapat menghasilkan keturunan yang bermutu dan memuaskan.

Menangkarkan atau membiakkan cucakrawa merupakan usaha yang baik dan sangat dianjurkan, karena dapat menambah jumlah populasi, sebelum menangkarkan ,dibutuhkan kandang penangkaran dan kandang karantina. Kandang karantina ini di gunakan untuk merawat cucakrawa yang sakit. Selain itu perlu juga mengetahui ciri ciri induk yang baik.Memilih induk yang baik sangat penting karena dapat mempengaruhi baik buruknya anak cucakrawa nantinya.

Usaha penangkaran meliputi: memilih jenis cucakrawa, memilih indukan, perjodohan, penetasan telur, dan perawatan anak. Semua itu akan dijelaskan dalam bab selanjutnya termasuk beberapa kendala yang dapat menggagalkan usaha penangkaran ini.

1.Membedakan Cucakrawa Jantan dan Betina

Perbedaan Cucakrawa Jantan dan Betina
JANTAN BETINA
Bentuk kepala bulat,bagian dahi agak menonjol,dan setelah dewasa ada belahan bulu di kepalanya. Bentuk kepala agak pipih,dan setelah dewasa tidak terdapat belahan bulu pada kepalanya.
Bulu ekornya tampak panjang Bulu ekornya tampak agak pendek
Bulu leher depan di bawah dagu berwarna putih bersih Bulu leher depan dibawah dagu berwarna butih ke abu-abuan
Bulu punggung dan sayap berwarna coklat ke abu-abuan dengan garis garis panjang berwarna putih Bulu punggung dan sayap berwarna coklat ke kuning kuningan dengan garis garis pendek berwarna putih
Bunyi kicauan nya sangat keras dan nyaring Bunyi kicauan nya tidak begitu keras dan cukup nyaring
Penampilannya sangat lincah dan energik Penampilannya agak lamban
Supit udang ekornya rapat dan keras Supit udang ekornya renggang dan agak lemas
Sosok tubuh nya besar Sosok tubuh nya agak lebih kecil

2. Memilih Jenis Cucakrawa

Burung cucakrawa mempunyai jenis yang beragam menurut daerah asalnya,antara lain burung cucakrawa asal Lampung, Kalimantan, Malaysia, Bengkulu, dan Medan. Kini di habitat asalnya cucakrawa semakin habis dan hilang akibat perburuan dan penebangan hutan.

Dari lima jenis diatas, cucakrawa asal Medan mempunyai kelas yang paling baik dibandingkan burung cucakrawa lainnya. Hal ini disebabkan postur tubuhnya yang besar ,suara yang keras,nyaring dan merdu,serta mempunyai gerak yang sangat lincah dan memikat.Dewasa ini untuk mendapatkan burung cucakrawa asal medan sangat sulit karena populasinya sudah sangat langka.

Walaupun tidak sehebat cucakrawa dari Medan,burung cucakrawa asal Kalimantan dan Malaysia penampilan dan kicauannya mirip dengan cucakrawa asal Medan hanya beda ukuran tubuhnya sedikit lebih kecil,diperlukan ketelitian dan pengalaman untuk dapat membedakan antara ketiga jenis tersebut.Sedangkan cucakrawa asal Lampung postur tubuhnya termasuk yang paling kecil tetapi penampilan dan kicauan nya mirip dengan cucakrawa asal Medan.Cucakrawa asal Bengkulu penampilan tubuh dan kicauan nya sangat mirip dengan cucakrawa asal Medan.

Walaupun berbeda asal dan suaranya,tetap saja jenis cucakrawa termasuk burung berkicau yang paling merdu suaranya.

3. Memilih Induk Cucakrawa Yang Baik

Burung yang disiapkan untuk keperluan penangkaran harus memiliki semua kriteria sebagai calon induk. Kriteria tersebut antara lain:

1.Badan berukuran besar dan panjang.
2.Bentuk kepala agak bulat dan besar,dahi menonjol,
3.Paruh panjang,tebal dan kuat,
4.Lubang hidung tidak lebar.terlihat kecil karena tertutup bulu hidung,
5.Leher panjang dan pangkal leher agak mengembung,
6.Dada bidang dan punggung agak bongkok,
7.Bulu ekor panjang dan mengumpul,makin ke ujung makin runcing dan mengecil
8.Bulu sayap panjang, bulu dada lembut, bulu ekornya bagus dan mengkilap .Bulu yang kusam menunjukkan burung yang kurang sehat.
9.Tulang paha kiri dan kanan agak merapat,
10.Jari kaki kuat dan panjang,cengkraman nya sempurna,
11.Sudah cukup dewasa, umurnya lebih kurang satu tahun dan sudah rajin berkicau.
12.Pandangan matanya tajam dan penampilannya energik.Pandangan mata yang sayu dan penampilan yang malas menunjukan kelesuan hidup atau kurang sehat
13.Burung rajin berkicau setiap hari
14.Mutu dan kualitas kicau harus baik; memiliki mental yang bagus; suara kicaunya bagus, nadanya bagus, volumenya bagus, iramanya bagus, jarak jangkaunya jauh, dan bersih atau kristal.
15 Fisik sempurna, dalam arti tidak cacat.
16.Sehat, dalam arti tidak sakit-sakitan.
17.Baik pejantan maupun betinanya sudah siap kawin.
18.Mau dan dapat ditangkarkan dalam arti mampu kawin secara normal
19.Dari keturunan yang baik dan mempunyai keturunan yang baik pula (tidak cacat, rajin, dan sayang mengasuh anaknya)

4.Menjodohkan Induk Cucakrawa

Pemilihan pasangan

Keberhasilan penangkaran burung Cucak Rawa sangat ditentukan oleh pasangan baru yang akan ditangkarkan sebagai calon induk. Untuk menentukan induk yang baik, faktor-faktor berikut ini harus diperhatikan, yakni:

Mutu atau Kualitas

Burung yang akan ditangkarkan sebaiknya telah benar-benar diseleksi kualitasnya, yang meliputi mutu suara atau kicau, mental dan jiwanya, keutuhan fisik serta daerah asal (peringkat teratas saat ini adalah Cucak Rawa yang berasal dari Sumatera).

Umur Burung

Umur burung yang akan ditangkarkan sangat menentukan kualitas piyik atau anakan yang dihasilkan. Anak atau piyik dari induk yang terlalu muda selain kondisi fisiknya lemah, juga kicau atau suaranya akan kurang keras atau bantas. Kemungkinan lain adalah induk muda ini kurang atau belum mampu merawat anaknya dengan baik, sehingga kemungkinan mati di saat kecil sangatlah besar. Sebaliknya, induk yang umurnya terlalu tua selain sudah kurang produktif, telur yang dierami kemungkinan tidak dapat menetas. Kalaupun dapat menetas anaknya kurang sehat atau bahkan mati,
Umur yang baik bagi penangkaran burung Cucak Rawa adalah 2 tahun bagi pejantan dan 1,5 tahun bagi betina, sebab pada umur tersebut Cucak Rawa telah mencapai dewasa kelamin. Apabila induk burung yang ditangkarkan berasal dari satu keturunan (dari induk yang sama), penangkaran dapat dimulai pada umur 1,5-2 tahun.

Asal-usul Pasangan

Satu induk yang sama, yakni dari satu tetasan yang pada umumnya terdiri atas jantan dan betina.Keuntungan pasangan dari induk yang sama ini adalah lebih mudah menjodohkannya
serta mudah pula menentukan jantan dan betinanya, karena mereka telah berpasangan sejak menetas. Kelemahannya adalah, keturunannya susah untuk menghasilkan kombinasi suara lain karena berasal dari satu darah atau satu garis keturunan.

Jenis Kelamin

Sering terjadi, karena ketidaktahuan penangkar, burung yang dijodohkan adalah pasangan yang terdiri atas jantan semua atau betina semua. Hal ini sering dialami oleh penangkar pemula. Walaupun burung yang dijodohkan adalah betina semua, dapat bertelur. Hal ini mungkin terjadi bila gizi yang diperlukan oleh burung tercukupi. Penentuan jenis kelamin sangat menentukan keberhasilan penangkaran, sebab bila sampai salah, penangkaran akan mengalami kegagalan. Untuk menentukan jenis kelamin ini telah duraikan di atas secara rinci.

Kecocokan Pasangan

Burung yang telah ditentukan jenis kelaminnya belum menjamin pasangan ini dapat akur atau jodoh dan dapat menghasilkan telur atau keturunan. Burung jantan dan betina yang disatukan dalam sangkar belum pasti cocok, mereka dapat saling menyerang, dan mungkin pula si jantan kalah oleh betinanya. Dalam hal semacam ini, pasangan burung ini harus segera dipisahkan agar tidak mengalami kerusakan bahkan dapat mengakibatkan matinya salah satu burung.

Kesehatan

Burung yang disiapkan untuk induk, hendaknya betul-betul telah diseleksi kesehatannya, baik kesehatan fisik maupun mentalnya lebih-lebih pada burung yang cacat. Burung yang kurang sehat atau tidak fit tidak mungkin menghasilkan anakan yang yang baik seperti yang diharapkan.bila burung yang dijodohkan ini sakit, akibatnya akan lebih fatal. Oleh karena itu, burung yang dijodohkan harus selalu dijaga kesehatannya melalui perawatan, pemberian makan yang baik serta kebersihan kandangnya. Selain umur prodiktifnya panjang, kesehatan burung juga akan menghasilkan keturunan yang baik dan memuaskan

Cara Menjodohkan

Bila calon induk yang akan ditangkarkan telah dipilih serta telah memenuhi syarat tersebut di atas, tiba saatnya untuk memasukkannya ke dalam kandang penangkaran. Menjodohkan atau memasukkan burung ke dalam kandangpun ada tekniknya tersendiri, yakni sebagai berikut:

1. Masukkan burung jantan ke dalam kandang penangkaran terlebih dahulu, hingga benar- benar tampak tenang dan tidak lagi gelisah, syukur sudah mau berkicau

2. Dekatkan atau tempelkan sangkar/kurungan yang berisi burung betina pada kandang penangkaran yang sudah berisi burung jantan calon pasangannya, pada salah satu dinding kandang dan amati terus. Bila keduanya telah mulai tertarik dan mendekat serta menunjukkan isyarat gerak yang cocok, barulah mulai dengan tahap berikutnya yaitu memasukkan burung betina ke dalam kandang penangkaran

3. Masukkan Cucak Rawa betina dalam kandang penangkaran secara hati-hati, agar si jantan tidak terkejut dan menyebabkan ketakutan serta menghambat adaptasi keduanya. Waktu yang tepat untuk memasukkan burung betina adalah sore hari menjelang tidur, dengan maksud agar keduanya dapat segera tenang dan tidak saling menyerang. Ikuti dan awasi terus perkembangannya agar dapat dipastikan bahwa keduanya akur dan tidak saling menyerang. Apabila dalam beberapa hari sudah mulai tampak akur dan selalu rukun, dapat diharapkan pasangan ini akan segera menghasilkan keturunan

4. Berikan cukup makanan baik makanan buatan, buah-buahan maupun makanan ekstra berupa serangga, belalang atau jangkrik. Air minum di campur dengan vitavit dan kolam rawa atau kolam buatan agar selalu dijaga kebersihannya serta mengganti airnya.

5 Pada waktu memberikan makanan ekstra, berupa belalang atau jangkrik, usahakan agar dibantu dengan tangan atau lidi, agar terjalin kontak langsung dengan pemilik. Kontak secara langsung dengan burung perlu latihan atau pendekatan sedikit demi sedikit dan penuh kesabaran. Kontak langsung ini sangat diperlukan, agar terjalin hubungan kasih sayang. Bila kontak langsung sering dilakukan, maka setiap kali kita datang ke lokasi kandang, burung akan menyambut gembira dan penuh harap untuk mendapatkan hadiah makanan kesayangan

6. Setelah beberapa waktu akan tampak jelas adanya kehidupan yang rukun, penuh kegembiraan yang diselingi dengan canda dan saling berkejaran riang namun tidak menyerang

7. Secara naluriah, seperti ketika masih di hutan, biasanya pasangan burung ini akan membuat sarang dan mulai bertelur menjelang musim penghujan, yaitu sekitar bulan Juli-Agustus. Apabila pasangan ini sama-sama tampak mengumpulkan rumput kering atau bahan lain dan mulai menyusun sarang, segera berilah tambahan daun cemara, rumput kering ataupun serabut kelapa agar burung mudah mencari bahan sarang

8. Setelah segalanya dirasa siap, maka si betina akan segera bertelur antara 2 sampai 3 butir. Tetapi ada kalanya burung akan bertelur sampai 4 butir. Tetapi pada umumnya Cucak Rawa hanya bertelur 2 butir saja. Telur yang semula berwarna putih ini lama-lama menjadi agak kekuningan dan kemudian akan muncul bintik-bintik coklat muda kekuning-kuningan. Jangan sekali kali memindahkan telur yang sedang dierami ke sarang lain.Hal ini akan menyebabkan burung tidak mau lagi mengerami telurnya dan penetasan akan gagal. Pengeramannya biasanya dilakukan secara bergantian. Pada hari ke empat belas, biasanya telur akan segera menetas. Anak Cucak Rawa akan diasuh oleh kedua induknya secara bergantian.

5.Kandang Perawatan Anakan dan Kandang Karantina

Kandang Perawatan Anakan Cucakrawa

Didalam kandang penangkaran, telur cucakrawa setelah dierami selama 14 hari oleh induknya, akan menetas kemudian diasuh dan diberi makan oleh indukan betina dan dibantu juga oleh indukan jantannya, setelah usia 6 hari anakan cucakrawa harus kita pindahkan kedalam kandang perawatan anak agar indukan betina bertelur lagi setelah 5 hari kemudian. Didalam kandang perawatan anakan kita rawat sampai berusia 45 hari , anakan akan bisa makan dan minum sendiri setelah berusia 45 hari dan sudah bisa kita jual kepada para pemesannya.

Kandang Karantina

Selain kandang penangkaran dan kandang perawatan anakan, peternak juga harus mempunyai kandang atau sangkar karantina. Kandang karantina ini khusus dibuat untuk tempat perawatan burung cucakrawa yang sedang sakit agar tidak menular kepada burung lainnya. Oleh karenanya kandang karantina tersebut harus ditempatkan jauh dari kandang penangkaran. Dalam kandang karantina harus dilengkapi lampu listrik sebagai penghangat ruangan dan kain penutup sangkar atau kandang. Bentuk dan ukuran kandang karantina cukup bervariasi, tergantung banyaknya burung yang sakit.

Kandang Penangkaran

Pengertian kandang perjodohan atau kandang penangkaran adalah kandang yang digunankan untuk mengembang biakan sepasang burung atau lebih. Lingkungan dadalam kandang penangkaran ini diciptakan seperti lingkungan di alam bebas.Maksudnya agar tercipta rasa nyaman, aman dan tenteram bagi penghuninya. Usaha penyesuaian ini antara lain dengan membuat kolam kecil dengan air yang jernih untuk mandi cucakrawa, ditanami pepohonan atau semak buatan, dan onggokan pasir yang digunakan untuk kipu atau mandi pasir. Selain itu kandang tersebut juga harus dapat melindungi cucakrawa dari pengaruh iklim, misalnya hujan, pans terik matahari, terpaan angin kencang, serta gangguan dari luar lainnya, seperti tikus, ular dan kucing.
Mengingat kandang dan perlengkapannya merupakan salah satu sarana yang penting, maka perlu diketahui beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dan perlengkapannya

I. Persyaratan kandang penangkaran yang baik

Persyaratan yang harus ada dalam membangun kandang penangkaran yang baik adalah sebagai berikut.

A. Lokasi

Sebaiknya kandang penangkaran didirikan ditempat yang tinggi sehingga pada musim penghujan tidak kebanjiran. Lokasi kandang juga harus jauh dari keramaian dan kebisingan, baik yang ditimbulkan oleh manusia, kendaraan, atau binantang lainnya. Sebab burung cucakrawa mudah stres jika mendengar suara gaduh atau bunyi yang mengejutkan. Disamping itu, kandang juga harus bebas dari gangguan binatang , seperti kucing, tikus, ular dan anjing.

B. Ventilasi

Kandang penangkaran harus mempunyai ventilasi yang baik. Dengan tersedianya udara yang segar didalam kandang tercipta lingkungan yang selalu segar dan sehat. Burung cucakrawa yang cuckup mendapat udara segar kesehatannya akan lebih terjamin.

C. Sinar Matahari

Sinar matahari pagi berfungsi pembentukan vitamin D dan membunuh kuman penyakit. Oleh karenanya, usahakan kandang penangkaran menghadap ke timur agar mendapatkan sinar matahari pagi.

D. Pohon Pelindung

Agar suasana kandang menyerupai alam aslinya dan menambah kesejukan serta menahan terpaan angin, sebaiknya disekitar kandang ditanami pohon pelindung.

II. Perlengkapan Kandang

Didalam kandang diperlukan beberapa perlengkapan untuk mendukung kenyamanan. Adapun perlengkapan kandang yang harus dipenuhi oleh peternak adalah sebagai berikut.

A. Kolam Buatan

Karena dialam bebas burung cucakrawa gemar mandi di sungai, adanya kolam kecil didalam kandang sangat diperlukan. Air kolam sebaiknya yang bersih dan akan lebih baik airnya dialirkan seperti sungai. Dalam membuat kolam tidak ada standar tertentu, ukuran dan bentuknya terserah pada peternak. Ada peternak yang membuat air mengalir dari tebing buatan yang akhirnya bermuara di kolam. Untuk menambah keasrian dan semaraknya kandang serta menjaga kejernihan air, kedalam kolam dilepas beberapa ikan kecil seperti ikan kepala timah, serta ditanam tumbuhan air yang berguna bagi kehidupan ikan tersebut.

B. Rumput dan Semak

Disekitar kolam ditanami tanaman seperti rumput krokot merah, krokot hijau dan pohon cendrawasih yang diperlukan sebagai pakan hijau bagi burung cucakrawa. Untuk menambah keasrian kandang diperlukan semak belukar buatan. Semak belukar ini dapat ditata secara berkelompok kelompok atau segerombol saja terserah pada selera peternak. Sebaiknya dalam kandang terdapat satu pohon yang tampak paling dominan, baik besar maupun tingginya, yang akan digunakan untuk berteduh, membuat sarang dan bercengkerama. Contohnya, semak semak itu terdiri dari rumpun bambu kecil atau mambu Jepang, pohon pakis, alang alang, dan satu pohon beringin muda sebagai pohon dominannya

C. Hamparan Pasir dan Bebatuan

Tidak jauh dari tanaman semak harus disediakan hamparan pasir dan beberapa batu apung atau batu timbul. Kegunaan nya sebagai tempat mandi pasir burung cucakrawa dengan tujuan untuk mengendorkan otot otot tubuhnya yang terasa kaku. Sedang kegunaan batu apung untuk mengasah paruhnya agar tidak terlalu panjang. Biasanya dekat batu apung tersebut, pada dinding kandang, digantung totok cumi cumi sebagai tambahan mineral bagi cucakrawa tersebut.

D. Tempat Sarang

Sebagai tempat bertelur, mengeram dan mengasuh anaknya, diperlukan sebuah sarang. Tempat sarang ini dapat berupa kotak rotan atau bambu yang dianyam berbentuk mangkuk, atau sabut kelapa setengah lingkaran. Karena burung cucakrawa membuat sarangnya sendiri, maka peternak cukup membuat sangkar dasar dari merang yang disusun dengan bentuk lingkaran didasar kotak sarang tersebut. Disamping itu, bahan bahan sarang seperti merang / jerami, rumput kering, serabut kelapa, ijuk aren atau ranting ranting kecil juga disediakan didalam kandang.

E. Tenggeran

Karena burung cucakrawa suka terbang rendah dan hinggap didahan, didalam kandang juga harus disediakan beberapa buah tenggeran yang diletakkan sedemikian rupa sesuai keinginan burung tersebut. Selain untuk hinggap, tenggeran juga sebagai tempat tidur dan untuk membersihkan paruhnya sehabis makan. Diusahakan tenggeran tersebut terbuat dari kayu yang keras, tua dan kering, misalnya dari pohon asam dan jambu monyet.Ukuran tenggeran harus disesuaikan dengan cengkraman cucakrawa, diameternya sekitar 1,5 cm.

F. Tempat Pakan dan Minum

Kandang juga harus dilengkapi dengan tempat pakan dan minum. Tempat pakan dan minum tersebut dapat terbuat dari bambu, kayu, seng, plastik, aluminium atau bahan lainnya yang tidak mudah bocor dan berkarat. Tempat pakan dan minum harus mudah dibersihkan dan dipindahkan. Oleh karenanya, satu sisinya diberi gantungan agar dapat ditempelkan didinding kandang yang berkisi. Dan lebih baik didinding kandang tersebut terdapat pintu pintu kecil sebagai tempat keluar masuknya tempat pakan dan minum.

III. Kontruksi kandang penangkaran

Setelah mengetahui persyaratan dan perlengkapan kandang, sekarang tinggal membuat sketsa dan membangunnya. Bentuk, model dan ukuran kandang bermacam macam tergantung dari selera dan imajinasi peternaknya. Namun jika lahan yang tersedia cukup luas, kandang dapat dibangun agak lebih besar agar gerak burung lebih leluasa. Dan perlu diketahui bahwa sebagian besar atap dan dinding yang terbuat dari kawat ram agar sinar matahari dapat masuk kekandang. Atap dan dinding yang tertutup hanya diperlukan ditempat sarang untuk bertelur. Dibawah ini disajikan suatu contoh sketsa dan rencana bahan yang digunakan dalam membuat kandang penangkaran.

– Ukuran kandang: panjang 3,5 m, lebar 2 m dan tinggi 2,75 m
– Lantai kandang dapat berupa tanah, kerikil, tanah berumput, pasir dan sebagainya.

– Lantai pondasi sekeliling kandang terbuat dari beton atau semen.
– Bahan kerangka kandang bisa dari besi atau kayu karena ada bagian yang terkena hujan dan panas.

– Atap bisa terbuat dari asbes, genteng, ijuk, atau kayu sirap.
– Kolam buatan terbuat dari semen atau beton agar tidak bocor.
– Semak buatan terdiri dari beringin, bambu kecil, alang alang dan sebagainya.
– Pipa saluran air dapat dari pipa paralon, besi atau bambu.

– Dinding kandang terbuat dari bahan kayu dan kawat ram yang berlubang kecil agar tikus kecil ( tikus piti ) tidak dapat masuk.

– Pada dinding dibuat beberapa pintu kecil untuk keluar masuknya pakan dan minuman dan satu pintu kecil lainnya sebagai pintu pengontrol, apakah burung sudah bertelur atau belum.

– Pintu besar juga dibuat untuk keluar masuknya peternak dalam rangka membersihkan kandang.

Kandang seperti itu bukan merupakan kandang yang standar, tetapi hanya merupakan contoh sehingga masih dapat dikembangkan lagi bila diperlukan. Misalnya sekeliling dinding lantai dibuat parit kecil yang selalu berair agar semut dan binatang kecil lainnya tidak dapat masuk ke kandang. Bila tidak dibuatkan parit kecil, dapat juga diberi lapisan minyak oli diseliling kandang. Agar suasana kandang tampak redup dan tenang, maka kerangkanya dapat dicat dengan warna gelap, seperti hitam, hijau, atau cokelat. Jangan mengecat kandang dengan warna yang cerah dan menyilaukan karena burung cucakrawa kurang menyukainya.

IV. Pengawasan kandang dan peralatannya

Untuk menjaga kondisi kesehatan burung cucakrawa yang ditangkarkan, peternak harus sering mengontrol kandang dan peralatannya. Hal hal yang perlu diperhatikan dalam pengawasan tersebut antara lain sebagai berikut.

a) Dinding kandang di kontrol, bila ada yang rusak, misalnya berlubang, segera ditutup dengan kawat ram. Begitu juga dengan atap dan lantainya. Adanya lubang tersebut dapat menjadi pintu masuk tikus, ular, atau kucing yang dapat menggangu ketentraman burung. Atau lubang tersebut dapat digunakan untuk pintu keluarnya burung kealam bebas.

b) Air kolam juga harus sering dikontrol, dibersihkan dan diganti, terlebih lagi air kolam yang tidak mengalir, karena air kolam tersebut cepat menjadi kotor akibat kotoran burung yang jatuh kedalamnya.

c) Tempat pakan dan minum harus sering dicuci dan dibersihkan dari kotoran. Tempat pakan dan minum yang tidak pernah dibersihkan akan menjadi sarang penyakit.

b). Jika terdapat bayak semut didalam kandang, kandang harus segera dibersihkan. Semut semut tersebut dapat membahayakan kehidupan burung cucakrawa, terutama piyik burung, karena keroyokan semut dapat menyebabkan kematian. Untuk menanggulanginya, kandang perlu disemprot dengan desinfektan, misalnya rodalon atau asepso dua minggu sekali.

e) Setiap habis beranak sarang harus diganti dengan yang baru. Hal ini dimaksudkan agar kondisi burung tetap sehat. Sarang yang telah dipakai beranak biasanya banyak kutunya.

f) Jika memungkinkan, sekeliling kandang ditanami tanaman bunga. Tanaman tersebut pada musim berbunga banyak mengundang serangga yang dapat dimakan oleh burung cucakrawa.

Leave a comment

Your email address will not be published.


*